Ketika Warna Jadi Suara
Penulis: Excella Annaisha Putri Prasya, siswi SMA Negeri 89 Jakarta
Tidak semua kisah lahir dari kata-kata. Ada yang tercipta dari sapuan kuas dan percikan warna. Bagi Muhammad Salman Farisyi (16 tahun), penyintas spektrum autisme, kanvas adalah ruang bicara. Warna adalah suaranya. Dulu, amarahnya mudah datang dan sulit fokus. Kini, di hadapan kanvas, ia menemukan damai. Dibiarkan setiap guratan menjadi kalimat. Setiap warna menjadi perasaan.
Saat waktu luang, Salman memilih tenggelam dalam dunia seni. Ia duduk di ruang tamu, menatap lama lukisan-lukisan karya Affandi yang terpajang di dinding. Bagi Salman, rutinitas itu merupakan proses. Proses dimana ia mendalami makna seni. Setelah suasana hatinya terbentuk, ia mulai menggambar bunga sakura sesuai imajinasinya.
Lukisan bunga sakuranya tidak biasa. Terbilang sederhana. Namun, artistik dan bermakna bagi seorang anak dengan autisme. Tumpahan cat lukis penuh warna berbentuk seperti titik tidak beraturan di kanvas, menyerupai daun-daun sakura yang berwarna-warni. Sementara, goresan lurus vertikal digambarkan sebagai batangnya.
Lukisan sakura Salman itu berhasil dipamerkan di berbagai galeri seni. Bahkan, dipamerkan di luar negeri. Beberapa karyanya terjual puluhan juta. Prestasi membanggakan dari seorang anak berkebutuhan khusus untuk kedua orang tuanya.
Bagi ayah dan ibunya, Salman merupakan anak yang ditunggu-tunggu kelahirannya. Mereka menanti kelahiran itu selama tiga belas tahun. Bagi mereka, Salman datang sebagai anugerah yang tidak ternilai.
Diagnosa dokter soal autisme Salman, tidak membuat mereka patah semangat. Meski getir, perjalanan yang mereka tempuh justru menuntut lebih banyak cinta, kesabaran, dan keberanian.
Sejak kecil, Salman banyak bergerak. Bahkan, terlalu aktif. Ia bisa berjalan tanpa arah, duduk, lalu berdiri lagi. Seolah, tubuhnya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sulit menggubris panggilan dan sulit mengikuti instruksi sederhana.
Saat itu, orang tua Salman membayangkan anaknya tumbuh seperti anak normal lain. Pandai berhitung, piawai mengerjakan soal-soal fisika, atau menguasai berbagai pelajaran di sekolah. Terlebih, banyak anggota keluarga mereka memiliki karir di bidang teknik, pendidikan, hingga bisnis.
Mereka ingin Salman kelak menapaki jalur serupa. Salman diharapkan, memiliki prestasi akademik dan mengikuti jejak orangtuanya yang berkarier di bidang masing-masing. Seiring waktu, mereka menyadari, jalan yang ditempuh Salman tidak sama.
Harapan itu perlahan bergeser. Bukan lagi sekadar ingin melihat Salman menguasai fisika atau matematika. Mereka ingin melihatnya bahagia, berkembang, dan memiliki tempat di dunia dengan caranya sendiri.
“Kita (orang tua Salman) kan tau, ya, dia nggak bisa. Jadi, kita cari kelebihannya di mana, lalu kita support,” ujar Sofwan (56 tahun), ayah dari Salman, saat ditanya di galeri mereka, Msalman Galery (03/08/2025).
Mereka mencoba banyak hal. Berbagai terapi pernah dijalani. Akhirnya, mereka menemukan ketertarikan Salman kepada seni, terutama seni lukis. Aktivitas melukis, membuat Salman lebih terarah dan merasa lebih tenang. Melalui media lukis, Salman merasa nyaman menyalurkan emosinya.
Sejak 2021 lalu, Salman bergabung di komunitas seni lukis bernama Outsider Art Jakarta di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan. Komunitas ini didirikan Timotius Suwarsito (50 tahun), biasa dipanggil Kak Toto, untuk membantu perkembangan emosi anak-anak berkebutuhan khusus.
Di bawah bimbingan Kak Toto, Salman mulai belajar bentuk-bentuk paling dasar. Lingkaran, garis lurus, atau kotak sederhana. Tetapi, prosesnya tidak selalu lancar. Perhatiannya sering terdistraksi. Ia tiba-tiba berdiri, lalu berjalan ke sudut ruangan. Pun, beberapa kali mengeluh kelelahan sebelum sesi berakhir.
Bagi Kak Toto, perilaku anak-anak berkebutuhan khusus, terutama anak dengan spektrum autisme, tidak bisa dipaksa beraktivitas seni. Ia sangat memahami, memaksa akan memperburuk suasana hati anak. Pendekatan yang tepat adalah menunggu. Setelah itu, proses dilanjutkan tanpa tekanan.
“Orang ngelukis sambil dipaksakan akan badmood. Jadi, biarkan saja,” tambah ayah Salman menyetujui metode pendampingan Kak Toto.
Sofwan, sebagai ayahnya, dan Kak Toto, sepakat membuat jadwal dua kali pertemuan dalam satu pekan. Agar, proses belajarnya bisa maksimal tanpa membebani.
Sedikit demi sedikit, perubahan semakin terlihat. Selama proses bertahun-tahun, kondisi emosi Salman kini lebih tenang dan nyaman. Terutama saat melukis. Ia mulai memilih warna sendiri. Bahkan, menyelesaikan satu gambar penuh. Kemudian, ia menunjukkan dengan wajah puas.
Dipandu Kak Toto, ia menggambar pohon yang diminta. Goresannya lebih tenang. Warnanya lebih berani. Hasilnya jauh berbeda dari lukisan-lukisan sebelumnya. Ada emosi yang tidak diucap. Tetapi, tercurah dalam setiap sapuan.
Hingga kini, banyak sekali karya lukis Salman yang dipamerkan di galeri Outsider Art Jakarta. Tidak disangka, lukisan bunga sakura milik Salman menarik perhatian banyak orang. Reaksinya bukan sekadar pujian. Lebih dari itu, rasa kagum atas kejujuran ekspresi yang terpancar dari setiap warna.
Selain itu, momen membanggakan terjadi saat ia ikut melukis di badan mobil Porsche bersama anak-anak berkebutuhan khusus lainnya. Kegiatan itu dalam rangka memperingati World Autism Awareness Day 2022.
Tidak lama setelah itu, ia kembali dipercaya melukis di badan bus Transjakarta. Aksinya, menyulap moda transportasi publik menjadi medium seni yang bisa dinikmati oleh ribuan pasang mata setiap hari. Karya Salman juga sempat tampil di Universitas Indonesia dalam proyek seni melukis kapal listrik.
Kegigihannya dalam menuangkan warna-warna lembut dan bentuk-bentuk khas yang ia temukan sendiri, membuatnya tampil menonjol sebagai seniman muda. Untuk mewadahi karya-karyanya, keluarga Salman membuka galeri kecil milik keluarga.
Galeri itu berada di rumah mendiang neneknya. Sosok yang pernah menyentuh hatinya lewat satu permintaan terakhir sederhana di saat sedang sakit. Ayahnya bercerita, nenek Salman pernah meminta cucunya itu melukis hiasan pohon kertas di kamarnya. Di sana terlihat, daun-daunnya berbentuk hati, menempel rapi di ranting kertas cokelat.
“Neneknya bilang ke mamanya, suruh Salman lukis itu,” ujar ayah Salman, mengenang.
Di galeri bernama Msalman Galery inilah, karya-karya baru terus bermunculan. Bukan sekadar warna dan garis. Tetapi, cerita dan jejak perjalanan seorang anak yang perlahan menemukan caranya sendiri tumbuh untuk menyampaikan isi hati.
Perjalanan Salman tidak berhenti di galeri kecil itu. Karyanya beberapa kali dipamerkan ke luar negeri. Ia pernah diundang ke Jepang dan Korea ikut serta dalam memamerkan karya bunga sakuranya. Dalam waktu dekat, ia akan kembali diundang ke Amerika Serikat.
Yang paling membanggakan orang tuanya saat setiap Salman selesai berkarya. Ia selalu memandang karyanya dalam waktu yang lama. Terlihat senyum kecil di wajahnya. Sebuah bahasa tanpa kata yang berarti, “Aku bisa.” Tanpa terucap.
Perjalanan hidup Salman memberi banyak pelajaran. Bagi orang tua, setiap anak memiliki potensi unik yang tidak bisa diukur dengan standar umum. Bagi guru, pendekatan yang tepat bisa membuka pintu bakat yang terpendam. Bagi masyarakat, melihat anak berkebutuhan khusus bukan dari kekurangannya. Tetapi, dari kemampuannya yang istimewa.
Pada akhirnya, hidup adalah kanvas yang tidak pernah selesai. Salman mengajarkan, menerima setiap warna, entah samar atau terang, merupakan cara paling indah untuk merayakan kehidupan.
Tulisan feature ini menjadi karya pemenang Juara III FLS3N wilayah Provinsi Jakarta tahun 2025

