Friedrich Wendt, “Einstein Kecil” Keturunan Indonesia Kuliah di Usia 10 Tahun
Münster, KARISMA — Friedrich Wendt, anak keturunan Indonesia-Jerman, mencatat sejarah sebagai mahasiswa termuda di Universitas Münster setelah mulai menempuh studi matematika pada usia 10 tahun. Bocah jenius ini mengikuti perkuliahan Analysis I bersama mahasiswa reguler, dua kali seminggu, sembari masih menyelesaikan pendidikan menengahnya di Jerman.
“Friedrich mengesankan saya minggu demi minggu. Saya bisa berdiskusi soal matematika dengannya seperti dengan mahasiswa lain,” kata Prof. Dr. Matthias Löwe, dosen di Institut Mathematische Stochastik Universitas Münster yang menjadi pembimbing akademiknya, kepada media universitas pada 8 Oktober 2025. Dalam publikasi resmi universitas, Löwe menilai kemampuan Friedrich berada jauh di atas anak seusianya.
Menurut laporan resmi kampus, Friedrich mulai mengikuti kuliah sejak semester musim dingin 2023/2024. Meskipun jauh lebih muda dari mahasiswa lain, ia tetap menjalani proses akademik penuh, termasuk menghadiri kuliah besar, mengerjakan latihan, dan mendapatkan pengakuan atas capaian akademiknya.
Ayahnya, Wilfried Wendt, mengatakan bahwa bakat luar biasa Friedrich sudah tampak sejak usia dini. “Saat dia masih sangat kecil, kami mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda. Sekarang dia sudah bisa mengikuti kuliah universitas,” ujarnya dalam wawancara dengan laman resmi Universitas Münster pada 8 Oktober 2025.
Friedrich lahir pada 16 Mei 2013 dan sempat menghabiskan masa kecilnya di Amerika Serikat sebelum kembali ke Jerman. Di luar perkuliahan, ia masih terdaftar sebagai pelajar sekolah menengah (Gymnasium) dan diperkirakan akan menuntaskan ujian Abitur dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam wawancara dengan media kampus pada 8 Oktober 2025, Friedrich mengatakan dirinya menyukai tantangan dan merasa senang berada di lingkungan akademik.
“Di satu latihan saya mendapat nilai penuh untuk pertama kali,” katanya.
Selain dikenal jenius di bidang matematika, Friedrich juga aktif bermain catur dan kerap berdiskusi dengan dosennya tentang teori bilangan, topologi, dan perhitungan pi. Kampus memberikan ruang khusus bagi Friedrich untuk berinteraksi dengan mahasiswa dewasa tanpa membatasi aktivitasnya sebagai anak.
Kisah Friedrich mendapat perhatian luas dari media Jerman dan internasional, termasuk Indonesia, karena dianggap mencerminkan bagaimana sistem pendidikan dapat mengakomodasi anak berbakat luar biasa. Para pendidik menilai dukungan universitas dan keluarga menjadi kunci keberhasilannya.
Beberapa pakar pendidikan juga menyarankan agar sistem serupa dikembangkan di Indonesia untuk memberi ruang bagi siswa berkemampuan tinggi agar dapat berkembang maksimal tanpa kehilangan masa kanak-kanak mereka.
Publikasi resmi Universitas Münster menyebutkan bahwa Friedrich menjadi inspirasi bagi kampus dan lingkungan sekitarnya. Keberhasilannya menunjukkan bahwa minat, bimbingan tepat, dan lingkungan belajar yang mendukung mampu membuka potensi luar biasa sejak usia dini. (Red – Karisma)

