Menari di Antara Zaman, Upaya Anak Muda Hidupkan Kembali Seni Tradisional
Lampu panggung terbuka di Taman Budaya Ardha Candra, Kabupaten Gianyar, Bali mulai menyala. Ribuan penonton memadati tribun saat malam itu, komunitas yang berasal dari desa naik ke atas panggung. Mereka bukan sekadar menari. Mereka membawa cerita, warisan leluhur, dan tantangan zaman yang harus dijawab.
Mereka adalah Komunitas Seni Kerta Yowana dari Desa Singakerta, Kecamatan Ubud. Penampilan mereka di ajang Pesta Kesenian Bali ke‑47 (PKB 2025) menjadi bukti bahwa seni tradisional masih hidup bila ada keberanian untuk berubah.
Ketua komunitas, I Wayan Eris Stiawan, menjelaskan bahwa persiapan panjang selama setahun diperlukan agar penampilan mereka layak di panggung besar.
“Penampilan kali ini menjadi bagian dari upaya pelestarian seni pertunjukan tradisional Bali yang kaya akan nilai spiritual, estetika, dan filosofi,” ujarnya (3/10/2025).
Tarian yang mereka pilih ialah Tari Kupu‑kupu Tarum. Garapan ini khusus untuk PKB. Namun, tetap menghormati pakem tradisional “bapang petopengan”, “goak macok”, “condong dan pelayon”, serta unsur omang.
“Kami tetap menjaga keaslian gerak, iringan gamelan, serta nuansa magis dalam pertunjukannya,” lanjut Wayan.
Di balik kemegahan panggung, tantangan nyata menghampiri. Menurut Wayan, menyatukan para seniman muda menjadi satu sekaa (kelompok) bukan mudah karena sebagian besar masih bersekolah atau bekerja. Desa Singakerta sendiri terdiri dari 14 banjar (sub-desa), menyatukan mereka adalah proses yang rumit.
Sementara itu, di Yogyakarta, sebuah komunitas lain, yakni Komunitas Gayam 16 bergerak dalam ranah gamelan dan kesenian tradisional. Berdiri sejak 20 Mei 2001, komunitas ini memiliki tujuan mengembangkan budaya khususnya seni gamelan serta menjalin kolaborasi dengan pencinta gamelan dari seluruh dunia.
Perpaduan antara tradisi dan adaptasi zaman kini menjadi jalur utama inovasi. Di Bali, Kerta Yowana memanfaatkan kompetisi dan media panggung untuk membangkitkan minat generasi muda. Di Yogyakarta, Gayam 16 membuka ruang bagi pencinta gamelan untuk berkembang dan bereksperimen.
Kedua contoh itu menunjukkan bahwa pelestarian seni tradisional tidak hanya soal mengulang bentuk lama, tetapi juga soal memberi ruang bagi kreativitas agar relevan dengan generasi sekarang.
Meski demikian, perjuangan masih panjang. Keterbatasan dana, kurangnya fasilitasi latihan, dan tantangan regenerasi menjadi hambatan yang terus muncul.
Bagi Wayan dan komunitasnya, panggung besar itu bukan sekadar ajang tampil. Ia adalah panggilan untuk menjaga warisan leluhur tetap hidup di hati generasi muda. “Kalau tidak kami yang teruskan, siapa lagi?” tuturnya lirih, setelah menurunkan tirai malam itu.
Dari panggung di Gianyar sampai sekadar ruangan latihan gamelan di Yogyakarta, seni tradisional Indonesia menari di antara zaman. Antara masa lalu yang kaya nilai dan masa depan yang harus dijaga. Generasi muda yang memilih jalan itu, bukan hanya menari. Mereka menegaskan, warisan budaya kita belum selesai. (Red – Karisma)

