Menyalakan Semangat dari Balik Lensa

Oleh: Keisya Ramadhani Cahaya

Di antara riuh langkah siswa yang berlarian di koridor sekolah, ada satu sosok yang lebih sering menatap dunia lewat lensa kamera dan selembar catatan kecil di tangannya. Ia bukan sekadar merekam gambar atau menulis berita. Ia merekam perjalanan tentang semangat, lelah, dan ketulusan.

Namanya Excella Annaisha Putri Prasya, siswi SMA Negeri 89 Jakarta yang menyalakan kembali nyala sebuah organisasi yang hampir padam, KARISMA.

Dari niat yang semula hanya ikut-ikutan, langkahnya menjelma menjadi perjalanan penuh makna. Ia belajar bahwa memimpin bukan sekadar memberi perintah. Melainkan, menjaga, mendengarkan, dan bertahan ketika banyak yang memilih mundur.

Di balik senyumnya yang lembut, tersimpan kisah tentang tanggung jawab, air mata, dan kebersamaan yang tumbuh menjadi cahaya di balik nama KARISMA. Inilah sebuah rumah bagi mereka yang ingin tumbuh melalui karya.

KARISMA adalah ekstrakurikuler di SMA Negeri 89 Jakarta yang menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan minat dan bakat di bidang fotografi, filmografi, videografi, jurnalistik, dan majalah dinding. Tidak seperti ekskul lain yang memiliki kepanjangan nama, KARISMA bukan singkatan. Berdiri sebagai nama utuh yang mencerminkan karakter para anggotanya, berkarisma, kreatif, dan penuh semangat.

Di KARISMA, terdapat dua bidang utama, yakni jurnalistik dan multimedia serta pengoperasian soundsystem dan live streaming sekolah. Masing-masing memiliki peran berbeda, namun tujuannya satu, belajar dan berkembang bersama melalui karya.

Perjalanan Excella di KARISMA bermula tanpa rencana besar. “Awalnya aku bukan orang yang niat-niat banget masuk KARISMA,” ujarnya sambil tersenyum, saat diwawancarai online melalui Gmeet (25/10/2025).

Saat kelas X, ia sempat tidak mengikuti ekstrakurikuler apa pun karena merasa belum menemukan tempat yang cocok. Hingga suatu hari, seorang teman mengajaknya bergabung hanya karena desain rompi KARISMA menarik perhatiannya.

Dari alasan sederhana itu, pintu baru terbuka. Ketika KARISMA sedang mencari perwakilan jurnalistik untuk lomba FLS2N 2024 (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional), sebuah ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), salah satu temannya menyebutkan, bahwa Excella pandai menulis.

Pelatih KARISMA, Heru Suprapto, mulai memperhatikannya. “Kak Heru tertarik buat narik aku ke KARISMA lebih jauh. Dari situ aku mulai sering ikut kegiatan,” kenangnya.

Keputusan itu menjadi awal perubahan besar. Setelah berhasil meraih juara tingkat kabupaten, Excella diangkat menjadi ketua menggantikan ketua sebelumnya. Saat itu, ia belum sepenuhnya percaya diri, namun kepercayaan yang diberikan membuatnya belajar bertanggung jawab.

Menjadi ketua bukan hal mudah. “Yang aku rasain itu syok sih,” katanya jujur.

Saat pertama kali menjabat, kondisi KARISMA tidak stabil. Beberapa anggota tidak aktif, dan semangat organisasi menurun.

“Posisi saat itu, keanggotaannya nggak jelas orangnya ke mana,” ujarnya.

Alih-alih menyerah, Excella memilih bertahan. Ia mulai mengenal satu per satu anggota, membangun kembali komunikasi, dan mencari cara agar semangat mereka tumbuh lagi. Ia mengatur ulang sistem kerja, menata kegiatan, dan berusaha menjadikan KARISMA tempat yang menyenangkan untuk belajar.

Tantangan besar datang ketika tim multimedia digabung ke dalam struktur KARISMA. Perubahan itu tidak berjalan mulus. “Ada yang memberontak, mogok kerja, ngambek, seenaknya,” kenangnya.

Konflik itu membuatnya lelah, bahkan sampai menangis karena bingung harus berbuat apa. Namun, di tengah tekanan itu, Excella tidak menyerah. Ia belajar mengelola perasaan, mengatur waktu antara sekolah dan organisasi, serta berusaha memahami setiap anggota dengan sabar.

Perlahan, situasi mulai membaik. Ia mulai menemukan ritme kerja dan arah baru bagi KARISMA.

Salah satu kegiatan yang paling berkesan baginya adalah Hunting Vol. 1. Dalam kegiatan itu, ia tidak hanya berperan sebagai ketua, tetapi juga sebagai pembimbing dan teman.

“Untuk pertama kalinya aku momong anak yang benar-benar momong,” katanya sambil tertawa kecil.

Kegiatan itu mempererat hubungan antar anggota. “Waktu di jalan pulang lihat mereka kecapean tapi tetap senang, aku langsung ngerasa mereka anak-anak aku banget,” ujarnya. Sejak saat itu, KARISMA tidak lagi terasa seperti organisasi yang kaku, melainkan keluarga kecil yang tumbuh bersama.

Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Di pertengahan periode kedua, Excella hampir menyerah. “Aku pernah nyaris mengundurkan diri sebagai ketua,” akunya.

Tekanan yang datang bertubi-tubi membuatnya merasa gagal. Ia merasa tidak mampu menjaga KARISMA tetap utuh.

Ia sempat menyampaikan keinginannya kepada pembina. “Setiap ngomong itu dada aku selalu nyesek. Kayak nggak ikhlas, tapi mau gimana lagi?” ucapnya lirih.

Namun, setelah merenung dan berbicara dengan pembina serta pelatih, ia menyadari sesuatu yang penting, bahwa dirinya dan KARISMA saling membutuhkan.

“Aku butuh KARISMA, dan KARISMA butuh aku,” katanya mantap.

Dari titik itu, ia bangkit lagi dengan tekad baru. Ia sadar, menjadi pemimpin bukan berarti tidak boleh lelah, tetapi harus tetap berdiri ketika semuanya terasa berat.

Nggak apa-apa capek, asal jangan nyerah,” begitu prinsip yang ia pegang hingga akhir masa jabatannya.

Dari pengalamannya, Excella belajar banyak hal. Ia menyadari dua hal utama yang menjaga organisasi tetap hidup, yakni komunikasi dan kreativitas.

“Kalau nggak ada komunikasi buat nyari lomba, ya nggak akan ada hasil sharing info lomba. Kalau nggak ada kreativitas, kalian pasti malas banget buat ngejalaninnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Excella, organisasi tidak bisa berjalan dengan perintah semata. Ia harus menciptakan ruang untuk saling memahami dan bekerja sama. Ia menanamkan semangat itu kepada anggota agar KARISMA tidak hanya aktif, tetapi juga solid dan produktif.

Perlahan, kerja keras itu membuahkan hasil. Kegiatan berjalan teratur, program semakin berkembang, dan anggota kembali bersemangat. KARISMA yang sempat lesu kini kembali hidup. Di bawah kepemimpinan Excella, organisasi itu menemukan arah baru.

“Kerja untuk bersama,” ucapnya singkat, namun dalam.

Ia mengibaratkan kegiatan di KARISMA seperti bekerja bersama teman-teman yang sudah seperti keluarga.

“Kadang rasanya kayak babu,” katanya sambil tertawa, “tapi semua terasa ringan karena dijalani bareng-bareng.”

Kebersamaan menjadi kunci dalam setiap langkahnya. Meskipun harus membagi waktu antara tugas sekolah dan tanggung jawab organisasi, Excella tidak pernah mengeluh. Ia memandang setiap proses sebagai pelajaran berharga tentang tanggung jawab, empati, dan keikhlasan.

Kini, KARISMA dikenal sebagai salah satu ekstrakurikuler yang paling aktif dan solid di SMA Negeri 89 Jakarta. Semua itu berawal dari keberanian seorang siswi yang awalnya hanya ikut-ikutan, namun tumbuh menjadi pemimpin yang menginspirasi.

Kisah Excella adalah cerminan tentang arti ketulusan dalam berproses. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan bukan tentang jabatan, melainkan tentang kesediaan untuk bertahan dan berjuang bersama.

“Yang harusnya orang ngelihat ‘ah kerja banget, males ah,’ tapi di KARISMA justru suka kerja karena tahu akan bareng-bareng sama temennya,” ujarnya menutup kisahnya.

Dari balik lensa dan lembaran catatan, Excella telah menulis kisahnya sendiri, tentang perjuangan, kebersamaan, dan semangat yang tidak pernah padam. Ia menyalakan kembali cahaya di tempat yang sempat redup. Hal itu membuktikan, hal kecil yang dilakukan dengan hati bisa mengubah banyak hal. (Karisma)

Tulisan feature ini masuk ke dalam peringkat Top 5 Gasadaya 3.0, tahun 2025, SMAN 89 Jakarta.

Sharing is caring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *