Permen Karet Ternyata Melepas Mikroplastik Saat Dikunyah
Jakarta, KARISMA — Mengunyah permen karet mungkin terasa sepele. Tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa aktivitas sederhana ini dapat melepaskan mikroplastik ke dalam mulut.
Temuan ini berasal dari studi percontohan yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA), dan memberikan gambaran baru tentang bagaimana mikroplastik bisa masuk ke tubuh manusia tanpa disadari.
Dalam penelitian itu, para ilmuwan menguji sepuluh merek permen karet berbeda, termasuk produk berbahan sintetis dan produk yang mengklaim menggunakan bahan alami.
Hasilnya mengejutkan. Semua jenis permen karet melepaskan ratusan hingga ribuan partikel mikroplastik ketika dikunyah. Mikroplastik ini berasal dari polimer yang digunakan untuk membentuk basis permen karet, baik elastomer sintetis maupun resin alami.
Secara ilmiah, pelepasan mikroplastik terjadi karena gesekan antara air liur, gigi, dan struktur polimer yang melunak saat permen karet dikunyah. Dalam uji laboratorium, pelepasan paling tinggi terjadi pada 8 menit pertama. Kemudian, menurun seiring stabilnya struktur permen karet. Pada menit ke-20, jumlah mikroplastik yang lepas relatif konstan.
Walaupun hasil penelitian ini cukup mengejutkan, para peneliti menegaskan bahwa dampak kesehatan dari mikroplastik yang tertelan melalui permen karet masih belum jelas. Hingga kini, belum ada studi jangka panjang yang secara tegas menunjukkan bahaya langsung mikroplastik dalam jumlah kecil terhadap tubuh manusia.
Namun, beberapa penelitian lain mengindikasikan bahwa mikroplastik dapat memicu stres oksidatif, peradangan sel, dan potensi gangguan metabolik.
Menurut Sanjay Mohanty, peneliti utama, tujuan studi ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan meningkatkan kesadaran mengenai sumber-sumber mikroplastik yang tidak terlihat.
“Kita hidup di dunia yang penuh plastik, dan fakta bahwa permen karet ikut berkontribusi menunjukkan betapa luasnya paparan yang tidak kita sadari,” ujarnya dalam laporan tersebut.
Meski mikroplastik kini ditemukan hampir di mana-mana, dari laut dalam hingga salju di kutub, studi permen karet membuka perspektif baru yang lebih dekat dengan keseharian anak muda. Permen karet merupakan produk populer di kalangan pelajar dan pekerja muda, sehingga temuan ini relevan untuk konsumsi harian.
Para ahli kesehatan lingkungan menyarankan beberapa langkah praktis:
- Kurangi frekuensi mengunyah, terutama kebiasaan mengunyah berjam-jam tanpa henti.
- Jangan telan permen karet, meskipun sebagian orang menganggapnya aman.
- Buanjjg permen karet dengan benar, agar tidak menjadi sumber mikroplastik di lingkungan.
Bagi para ilmuwan, penelitian ini menjadi pintu awal untuk studi lanjutan mengenai interaksi antara bahan polimer dan proses biologis dalam mulut.
Bagi anak muda, temuan ini bisa menjadi pengingat bahwa gaya hidup sehari-hari, bahkan hal kecil seperti mengunyah permen, tetap berhubungan dengan isu besar seperti kesehatan dan keberlanjutan.
Penelitian UCLA ini masih bersifat awal dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut. Namun satu hal sudah jelas: mikroplastik hadir lebih dekat dari yang kita kira. Dan memahami hal itu adalah langkah penting untuk generasi muda yang makin peduli pada sains dan masa depan bumi. (Red – KARISMA)

