Kobaran Api Tungku Dodol Betawi Tak Pernah Padam

Penulis: Excella Annaisha Putri Prasya, siswi SMA Negeri 89 Jakarta

Dodol Betawi terdiri atas komposisi alami Nusantara yang melimpah ruah. Ialah tepung ketan, santan kelapa, gula merah, juga gula pasir yang tersungkur di atas kuali bertungku kayu bakar. Kemudian, dimasak dengan api yang tak stabil, bermodalkan kipas angin. Jika warna kurang pekat, adonan bisa ditambahkan gula merah lagi.

Di balik rasa manisnya yang khas, ada proses yang relatif panjang juga menyita kesabaran. Alih-alih bersantai-ria, waktu pengadukan Dodol Betawi yang memakan waktu lama, membuat banyak tenaga yang terkuras. Atmosfer bernuansa gotong royong, sangat terasa di industri dodol ini.

“Masaknya sekitar 8 jam untuk satu kenceng. Kalo capek, ya gantian. Kalo gak diaduk, nanti menggumpal,” lanjut pria asli Betawi ini.

Dalam satu kuali, dodol dapat dikemas sebanyak 30 besek atau setara dengan 90-100 bungkus. Selain varian rasa original, industri dodol ini juga menyediakan varian rasa buah-buahan dan dodol bebas gula untuk para pejuang diet dan diabetes. Harga Dodol Betawi Bu Yuyun dibanderol dengan harga Rp100.000 – Rp130.000 per besek dan Rp25.000 – Rp30.000 per bungkusnya, tergantung varian rasa yang dibuat.

Agus mengaku, para pekerja di industri Dodol Betawi Bu Yuyun bukan hanya orang Betawi Asli. Melainkan masih banyak masyarakat daerah lain. Selain untuk mengais kertas bermata uang, para pekerja itu juga menuangkan diri pada budaya Indonesia.

“Itu temen ane dari Banten. Terus ada lagi dari Banten juga, belum balik. Masih di Serang. Yang (orang) Sunda juga belum balik, masih suasana lebaran,” tambahnya.

Asa menuju hidup yang lebih baik, membuat para pekerja itu rela menghabiskan banyak waktu. Meski hanya sekedar bertukar segayungan atau pengaduk, namun waktu adalah emas. Bersenda gurau bersama untuk saling melepas lelah dan keluh kesah tanpa mempermasalahkan perbedaan.

Uniknya, pembuatan dodol ini bukan hanya sekadar membuang tenaga sia-sia, namun juga mengeratkan keakraban para pekerjanya di atas keberagaman. Kerukunan mereka tertuang pada makna dodol yang dibuatnya. Ragam bahan yang dicampuradukkan, menjadi adonan lengket yang dinamakan dodol. Menggambarkan kerukunan, keakraban, juga keakuran para pekerjanya yang saling bergantian mengaduk dodol di atas kuali besar.

Di era yang modern ini, Agus juga mengungkapkan bagaimana kesulitannya dalam memasarkan dodol. Banyak yang mulai meninggalkan dodol, sehingga dirasa jarang asap kayu bakar menyeruak keluar dari rumah-rumah lagi. Buatnya, jika masih ada yang membuat dodol, tentu memberikan kebanggaan tersendiri sebagai pelestarinya.

“Ane awalnya kerja disini iseng doang, diajak temen yang dari Bogor, tapi udah gak kerja disini. Udah sepuh. Ya ane sih bangga ye kerja disini. Selain gajinya alhamdulillah, ya siape sih yang gak mau melestarikan budaya. Apalagi kalo bisa sampe dikenal ke luar negeri.”

Usaha keras Bu Yuyun dan para pekerjanya dalam mempertahankan warisan kuliner dodol Betawi, membuat sajian ini tak lekang waktu. Begitu pun dengan resepnya yang turun temurun, mengalirkan tradisi dari generasi ke generasi. Terus menjaga agar warisan kuliner nenek moyang tak tergilas jaman.

“Resepnya turun temurun. Gak tau Bu Yuyun udah generasi kepuluhan berapa. Makanya, rasa dodolnya khas, Betawi asli. Walaupun ane yang buat, tapi ane gak ubah resep,’ ucap Agus.

Kudapan manis asal Betawi ini akan tetap khas dengan kepribadiannya sebagai budaya Indonesia. Sajian yang tak lekang waktu, juga selalu diminati lintas generasi. Legitnya Dodol Betawi akan menjadi pengenang masyarakat agar terus melestarikan makanan tradisional ini bersemayam dalam diri khalayak ramai.m diri khalayak ramai.

Tulisan feature ini menjadi karya pemenang Juara I FLS3N wilayah Jakarta Timur tahun 2024

Sharing is caring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *