Bangkit di Tengah Duka: Harapan Baru dari Reruntuhan Ponpes Al Khoziny
Sidoarjo, KARISMA — Suara palu dan sekop terdengar bersahutan di kawasan Pondok Pesantren Al Khoziny, Tulangan, Sidoarjo. Dua hari setelah musala pesantren itu ambruk dan menelan puluhan korban jiwa, kehidupan perlahan mulai bergerak lagi. Santri, guru, dan warga sekitar bergotong royong membersihkan puing, menata sisa bangunan, dan mendirikan tenda-tenda darurat untuk tempat belajar sementara.
Di tengah luka yang masih terasa, suasana di pesantren itu justru dipenuhi semangat kebersamaan. Banyak relawan datang dari berbagai daerah—membawa bantuan, makanan, hingga sekadar pelukan simpati.
“Kami semua berduka, tapi kami juga belajar banyak dari musibah ini,” ujar KH Ahmad Masyhuri, salah satu pengasuh pondok (9/10/25).
“Anak-anak sekarang tahu bahwa pendidikan bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di bagaimana kita bertahan dan saling menolong, ” lanjutnya.
Beberapa santri kini kembali belajar di tenda-tenda bantuan. Mereka membaca kitab, menghafal ayat, dan menulis tugas di atas meja lipat. Di sela-sela belajar, beberapa santri membantu petugas dan relawan membersihkan area.
“Kami ingin tetap mengaji dan belajar, karena itu yang membuat kami kuat,” kata Arif, salah satu santri kelas akhir yang selamat dari insiden tersebut.
“Kami percaya, teman-teman kami yang telah pergi ingin melihat kami terus berjuang,” sambungnya.
Pemerintah daerah telah menurunkan tim teknis untuk meninjau keamanan bangunan pondok lain di sekitar wilayah Sidoarjo. Audit menyeluruh akan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang. Selain itu, pendampingan psikologis juga diberikan kepada santri agar trauma tidak menghambat proses belajar mereka.
Tragedi ini membuka mata banyak pihak tentang pentingnya pengawasan dan standar keselamatan di lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Infrastruktur pendidikan tidak cukup hanya berdiri megah, tapi harus aman, layak, dan dirancang dengan memperhatikan keselamatan jiwa para penghuninya.
“Ini momentum bagi kita semua untuk memperkuat kualitas pendidikan dari segala sisi—ilmu, karakter, dan keselamatan,” kata seorang relawan evakuasi dari Surabaya.
Kini, dari antara reruntuhan, muncul harapan baru. Para santri kembali mengumandangkan ayat suci, para guru kembali menulis di papan tulis darurat, dan masyarakat sekitar terus hadir membawa semangat.
Musibah ini menjadi pelajaran berharga bahwa pendidikan sejati tak hanya membangun gedung, tetapi juga membangun manusia yang tangguh, peduli, dan berani bangkit. (Red – Karisma)


Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali