Dari Panggung Sekolah ke Kancah Internasional
Oleh: Rizka Nurjannah
Tak banyak yang mengenalnya, tetapi prestasinya telah melangkah jauh. Dialah Nasywa Putri Aisyah (17), siswi kelas XI SMA Negeri 89 Jakarta yang lahir pada 5 Juni 2008. Di usia muda, Nasywa sudah menunjukkan bakat luar biasa di bidang seni tari. Dari panggung sekolah, langkahnya menembus ajang nasional hingga internasional.
Kecintaan Nasywa terhadap tari tak lahir karena keinginan meraih penghargaan. Sejak kecil, ia telah jatuh cinta pada keindahan gerak. Ketika berusia lima tahun dan masih duduk di taman kanak-kanak, matanya terpaku pada sekelompok siswi yang menari dengan anggun.
Ia begitu terpesona melihat keluwesan anak-anak yang menari. Imajinasinya bermain, bagaimana jadinya jika mereka mengenakan busana tari yang indah. Dari kekaguman sederhana itulah, tumbuh tekadnya untuk menekuni dunia tari.
Sejak saat itu, Nasywa terus berlatih. Dari gerakan yang sederhana, ia berkembang menjadi penari yang terampil. Perjalanan panjangnya tak hanya membuatnya piawai menari, tetapi juga memberi ruang untuk berbagi ilmu.
Kini, selain aktif berlatih di sanggar bersama pelatihnya, Kak Ayub, ia juga mengajar anak-anak SD di Jakarta, menularkan semangatnya agar lebih banyak generasi muda mengenal seni tari.
Di lingkungan sekolah, Nasywa dikenal sebagai siswi yang aktif dan berani tampil. Hampir setiap acara sekolah menghadirkan dirinya di panggung. Ia percaya, latihan dan pengalaman tampil adalah kunci untuk terus berkembang.
Di luar sekolah, ia memperdalam kemampuannya di sanggar, memanfaatkan waktu luang untuk berlatih dan belajar dari berbagai gaya tari.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi Nasywa saat ia mendapatkan kehormatan tampil dalam acara penyambutan dua belas negara pada ajang Rekor MURI di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah. Kesempatan itu menjadi tonggak penting dalam perjalanan seninya.
Ia merasa bangga dapat membawa nama Indonesia di hadapan tamu-tamu dari berbagai negara. Selain itu, ia juga pernah diusulkan untuk tampil di Malaysia karena bakatnya yang menonjol. Meski belum terwujud karena persaingan yang ketat, pengalaman tersebut menjadi cambuk bagi Nasywa untuk terus berlatih.
Perjalanan di dunia tari tentu tak lepas dari tantangan. Ia pernah merasa canggung dan kalah percaya diri saat menghadapi lawan yang hebat dalam lomba. Ada pula masa ketika ia merasa latihan yang dijalani belum cukup.
Namun dari pengalaman-pengalaman itu, ia belajar banyak hal. “Aku harus lebih giat saat berlatih. Yang paling penting, pikiran jangan ke mana-mana, terus jangan gugup, dan tetap tenang,” ujarnya sambil tersenyum.
Pengalaman yang paling sulit ia rasakan saat mengikuti perlombaan Gasadaya 3.0 (27 Oktober 2025) yang digelar oleh sekolahnya dalam rangka Bulan Bahasa. Tema lomba yang sudah ditentukan membuatnya kesulitan menyesuaikan gerakan dan lagu.
Namun, dari proses itulah ia memahami bahwa tari bukan sekadar hafalan gerak, melainkan bentuk penghayatan. Ia belajar untuk menyeimbangkan teknik dan perasaan agar penampilan terasa hidup.
Setiap prestasi yang diraih Nasywa tak lepas dari dukungan orang-orang terdekatnya. Sosok yang paling berarti adalah sang ibu. Dalam setiap lomba, sang ibu selalu hadir mendampinginya, membantu persiapan. Bahkan, memberikan semangat dari pinggir panggung.
“Ibu selalu ada di setiap lomba, kadang bantuin make up, kadang cuma nunggu sambil ngedoain,” ujarnya penuh syukur.
Selain ibu, ada pula Kak Ayub, guru tari yang membimbingnya sejak SMP. Kak Ayub bukan hanya pelatih, tetapi juga sosok yang memahami karakter dan potensi Nasywa. Di bawah bimbingannya, Nasywa tumbuh menjadi penari yang percaya diri dan matang dalam teknik. Hingga kini, mereka masih berlatih bersama di sanggar yang sama.
Nasywa juga memiliki sosok panutan yang ia kagumi, yaitu Bathara Saverigadi Dewandoro, penari muda berbakat yang telah tampil hingga mancanegara. Ia pertama kali bertemu Bathara saat mengikuti pelatihan tari.
“Aku kagum banget sama Kak Bathara,” katanya.
“Gerakannya lembut tapi kuat, nggak kaku padahal dia laki-laki,” jelasnya.
Dari Bathara, Nasywa belajar, setiap penari memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan jiwa lewat gerak.
Tari bagi Nasywa bukan sekadar kesenangan atau hobi. Ia mengibaratkan dunia tari seperti rumah, tempat ia merasa tenang setiap kali menghadapi tekanan atau kesibukan sekolah.
“Kalau lagi banyak tugas atau masalah, aku nari. Rasanya langsung tenang,” ujarnya lirih.
Tari menjadi ruang bagi dirinya untuk menyalurkan perasaan, mengatur napas, dan menenangkan pikiran.
Prestasi yang ia raih selama ini juga menjadi sumber semangat baru. Setiap penghargaan yang diterima membuatnya bangga sekaligus bersyukur. Namun, di balik rasa bangga itu, pernah juga muncul dilema. Saat menerima penghargaan pertama, Nasywa merasa senang sekaligus sedih karena harus menanggalkan kerudungnya untuk tampil di atas panggung.
“Aku senang dapat penghargaan, tapi juga sedih karena harus lepas kerudung,” katanya dengan jujur.
Meski begitu, Nasywa tak pernah berhenti menari. Ia menyadari bahwa setiap pengalaman memiliki nilai tersendiri. Semua proses itu membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Ia menjadikan prestasi-prestasi yang diraih sebagai kunci untuk membuka pintu masa depan. Ia berharap, dunia tari bisa menjadi jalan menuju perguruan tinggi yang ia impikan.
Di tengah semangatnya mengejar mimpi, Nasywa juga menyimpan keprihatinan terhadap generasi muda. Menurutnya, banyak anak muda kini lebih mengenal budaya luar dibandingkan budaya sendiri.
“Sekarang banyak banget anak muda yang nggak tahu kebudayaan Indonesia, kayak tarian daerah atau kuliner. Mereka malah lebih hafal K-pop,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Ia berharap suatu hari nanti, teman-teman sebayanya kembali mencintai budaya Indonesia. “Untuk ke depannya, aku harap anak-anak tahu tarian dari daerahnya masing-masing. Jangan dilupain, deh,” harapnya.
Cinta Nasywa terhadap seni dan budaya membuatnya terus melangkah. Setiap gerakan yang ia tampilkan di atas panggung adalah wujud rasa hormatnya pada tradisi dan kerja keras para seniman sebelumnya. Ia ingin terus belajar, menari, dan menginspirasi.
Di penghujung percakapan, Nasywa menutup kisahnya dengan kalimat yang menjadi pegangan hidupny, kalimat yang merangkum seluruh perjalanan dan perjuangannya di dunia tari:
“Tari itu bukan sekadar gerakan, tapi bahasa dari bahasa jiwa,” ungkapnya.
Dalam setiap lenggok dan ayunan tangannya, Nasywa berbicara melalui bahasa itu. Bahasa yang tak diucapkan dengan kata, melainkan dengan rasa.
Dari panggung sekolah hingga kesempatan menari di hadapan dunia, ia telah membuktikan bahwa ketulusan dan cinta pada budaya dapat membawa langkah kecil menuju prestasi besar. (Karisma)
Tulisan feature ini masuk ke dalam peringkat Top 5 Gasadaya 3.0, tahun 2025, SMAN 89 Jakarta.

