Melukis Emosi Jadi Karya Seni

Penulis: Excella Annaisha Putri Prasya, siswi SMA Negeri 89 Jakarta

Di dalam ruang penuh goresan warna-warni cat lukis, terlihat anak-anak berkebutuhan khusus itu memegang kuas yang menari di atas kanvas. Saat melukis, mereka bisa berdamai dengan suara-suara yang dianggapnya bising. Meski kadang, suara-suara bising itu terdengar intimidatif.

Di sana, seorang Timotius Suwarsito (50 tahun) hadir mengelola emosi menjadi karya seni.

Ia tidak hanya menawarkan kuas, kanvas, dan cat lukis. Kak Toto, panggilan akrabnya di kelas, mengenalkan dunia lukis kepada anak-anak berkebutuhan khusus dengan segenggam empati. Seniman ini berhasil menggabungkan seni lukis dan pengabdian sosial di dalam kelas inklusif yang ia rintis.

Bukan sebagai guru dengan metode ajar banyak aturan, tetapi sebagai teman bagi mereka yang membutuhkan pemahaman lebih. Ia tidak memaksa didengar oleh telinga mungil mereka. Ia hanya menyediakan ruang sebagai wadah komunikasi sekaligus penyaluran emosi melalui warna, bentuk, dan imajinasi.

Outsidert Art Jakarta, namanya. Komunitas seni melukis yang didirikan Toto pada tahun 2016, didedikasikan penuh untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Lokasinya kini berada di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan.

Tepat empat belas tahun sebelum komunitasnya berdiri, Toto sempat terombang-ambing dalam ketidakpastian dengan menyandang sarjananya. Bidang yang ia geluti terlalu luas. Sementara itu, lapangan kerja terasa semakin sempit. Hobi yang ia rawat sejak kecil, diam-diam menjadi pelarian ketika lapangan kerja tertutup baginya.

Ia mulai serius menyelami seni dengan belajar bersama seniman lokal. Hingga akhirnya, membuka diri ke dunia luar yang lebih luas. Hal itu, membawanya mengarungi perjalanan panjang ke benua Eropa dan negeri sakura, Jepang.

Di antara cerita perjalanannya di benua Eropa, Toto menemukan istilah Outsider Art, gerakan yang telah berkembang sejak tahun 1990an. Gerakan ini hadir untuk menghormati karya-karya yang lahir dari tangan yang berada di luar arus utama seni.

Sedangkan, perjalanannya di Jepang telah mengubah perspektifnya tentang seni, inklusi, dan empati. Hingga ia pulang dengan tangan yang menjinjing secercah benih yang tumbuh menjadi ide. Tidak lama, ia membuka ruang aman bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk melukis tanpa batas, tanpa aturan, tanpa dogma.

Di dalam dunia Outsider Art, tidak ada langit yang harus biru dan wajah yang mesti proporsional. Bintik-bintik di langit bisa menjadi cara menggambarkan rindu. Sedangkan, guratan merah tebal bisa jadi teriakan emosi yang tidak sempat terucap. Seni bagi mereka bukan hasil akhir yang hidup dengan warna senada, melainkan proses menyampaikan isi hati.

“Di sini (Indonesia), anak-anak seperti itu (anak-anak berkebutuhan khusus) seperti terabaikan dan dikesampingkan,” ujar Toto saat diwawancari di ruangannya (14/5/2025).

Ia melihat sendiri bagaimana sebagian dari mereka tumbuh tanpa dukungan penuh. Bahkan, dari sosok hangat yang mereka dambakan menjadi “rumah” untuk pulang. Padahal, di balik keterbatasan ada keistimewaan yang tidak bisa diukur dengan standar umum. Lewat komunitas yang dibesarkannya itu, Toto ingin membalikkan cara pandang bahwa mereka tidak butuh dikasihi, melainkan dipahami melalui kesempatan untuk berkarya.

Di ruang kelasnya, tidak ada kurikulum kaku atau instruksi yang membatasi. Setiap hari berjalan berbeda, mengikuti irama hati anak-anak. Jika mereka ingin berteduh di bawah seni yang mereka lukis, mereka bisa melukis dengan wadah payung.

Mereka juga kerap menuangkan imajinasi di atas bidang datar berbahan kain kaku. Toto dengan senang hati menyediakan kanvas untuk siapa pun yang membutuhkan. Tidak jarang, ada yang membawa sendiri dari rumah, sesuai keinginan masing-masing.

Dalam proses melukis, banyak orang berpikir, “apakah seni benar-benar bisa menjadi wadah terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus?”, lanjutnya.

Di sini semua terjawab. Terapi tidak lagi berpedoman pada bidang medis dan akademik. Seni dapat membuka jalan yang lebih halus dan jujur menuju pemulihan. Ia kerap menjelaskan kepada orang tua dan pendamping, “karya yang terlihat berantakan bisa jadi anak itu sedang bercerita tentang sesuatu yang selama ini terpendam,” ujarnya menambahkan.

Di balik kehangatan yang mengelilingi kelas itu, pasti ada tantangan yang muncul tanpa bisa ditebak. Semua proses menguras emosi dan tenaga. Muncul perbedaan cukup ekstrem dari kondisi anak-anak. Ada yang mudah tersulut amarah, ada yang tiba-tiba mencakar, berteriak, atau menangis histeris.

Toto tidak pernah mengelak. Semua itu baru dikenalnya setelah menyelami dunia anak berkebutuhan khusus. Seiring waktu berjalan, ia belajar bahwa ketenangan justru datang dari pemahaman, bukan pengendalian.

Memahami setiap anak seperti membaca bahasa yang tidak tercetak di buku mana pun. Maka, pendekatan mereka pun selalu personal. Tidak ada metode tunggal yang dipakai untuk semua anak. Ketika satu anak mulai bisa duduk tenang seraya mengambil kuas, mencelupkannya ke warna sesuai keinginannya, hal itu sudah lebih dari cukup disebut keberhasilan.

Perubahan itu tidak hanya tampak di galeri, tapi juga di rumah. Orang tua mereka menceritakan anaknya kini lebih tenang dan mampu meredam amarah. Beberapa dari mereka, bahkan membawa kuas dan kanvas ke mana pun mereka pergi sebagai suatu kebutuhan.

Seni bukan lagi aktivitas selingan, tetapi telah menjadi cara mereka berdamai dengan dunia dan dengan diri sendiri. Bagi Toto, tidak ada validasi yang lebih menyentuh dengan melihat anak-anak itu menemukan jalannya pulang ke dalam ketenangan.

“Hasil tangan mereka yang kita anggap aneh dan rumit itu, bisa lho menghasilkan uang dalam jumlah yang gak sedikit. Ada yang jutaan, ratusan juta malahan,” lanjut Toto.

Perlahan, satu per satu karya yang mereka hasilkan, ikut angkat bicara kepada dunia. Salman (15 tahun), seorang penyandang autisme, berhasil memamerkan karya lukisnya ke beberapa negara. Tawaran pun datang, bukan nominal kecil senilai ribuan, melainkan ratusan juta rupiah. Selain itu, seorang penulis menjadikan sosoknya sebagai sumber inspirasi sebuah buku.

Untuk merayakan karya mereka, Toto kerap menggelar pameran seni. Tidak melulu megah atau berlampu sorot, cukup dengan menggantung lukisan di galeri kecil miliknya. Tidak jarang pula, ia menggandeng instansi pemerintah maupun lembaga swasta untuk membuka ruang yang lebih luas. Menurut Toto, anak-anak itu hadir bukan lagi sebagai pengunjung, melainkan sebagai seniman yang memiliki identitas.

Di balik keberhasilan pengabdian sosialnya, Toto selalu rendah hati. Kerja kerasnya tanpa pamrih. Namanya tidak mau disanjung tinggi. Ia mengatakan, “saya nggak haus validasi yang maunya selalu ikut diperkenalkan di depan media saat mereka sukses.”

“Saya di sini mengajar pakai hati, mereka berani membayar saya. Mau dikenalin atau nggak, itu hak mereka. Cukup dikenang saja. Saya yakin mereka anak baik yang tidak pernah melupakan jasa orang lain,” pungkasnya dengan bangga hati.

Ia tidak mengejar pujian. Ia tidak merasa perlu selalu muncul di balik sorotan saat karya anak-anak itu dikenal dunia. Toto merasa, cukup dengan membangun pasar, membuka ruang, dan memberikan tempat untuk karya mereka bisa berbicara, membuat dirinya berpuas hati.

Ia percaya, semakin banyak orang yang memahami seni, semakin luas ruang mencintai manusia dalam segala bentuk yang mungkin tidak sempurna. Namun, justru paling istimewa.

Tulisan feature ini menjadi karya pemenang Juara I FLS3N wilayah Jakarta Timur tahun 2025

Sharing is caring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *